Sedih, kecewa, marah, kesal… barangkali itu beberapa ekspresi yang mewakili ketika kita merasa kehilangan. Kehilangan apa pun yang pernah merasa kita cintai dan merasa kita miliki. Entah itu berupa barang, binatang kesayangan ataupun orang-orang yang kita cintai… Itu juga yang mungkin dialami sahabatku.
Beberapa waktu lalu, tepat di hari jum’at pagi bulan Ramadhan, aku mendengar kabar gembira. Sahabatku yang terakhir ku jumpai saat sahabatku yang lain menikah, telah melahirkan anak keduanya… walaupun saat itu kandungannya masih berusia 7 bulan.. yups, lahir prematur.. Yang membuatku tambah terkejut, ternyata anaknya terlahir kembar.. Subhanallahu… padahal ibunya sendiri saja juga tidak tahu kalo akan terlahir kembar, karenamemang selama kehamilan, beliau belum pernah sekalipun di USG.
Sahabatku yang satu ini pastinya amat bahagia, memiliki anak yang terlahir kembar dalam keadaan sehat, walaupun tetap terlahir dengan berat badan yang tergolong rendah. Setidaknya kebahagiaan itu kurasakan ketika aku meneleponnya untuk sekedar mengucapkan selamat dan keikutsertaan rasa bahagia.
Tapi ternyata kebahagiaan itu tak berlangsung lama, keesokan harinya kudengar lagi kabar, jika kedua bayi kecil itu harus mendapatkan perawatan serius. Dan berita terakhir yang kudengar, harus di kirim ke RS di daerah Sunter yang memang terbilang ”wah”, paling tidak untuk sekelas sahabatku itu, tanpa bermaksud merendahkan, tp aku cukup tahu dengan keadaannya. Bayangkan saja hanya 3 hari bayi-bayi mungil itu di inapkan dalam inkubator, ia harus menghabiskan biaya yang tidak sedikit, 20 juta! Rasa sedih dan prihatinku makin menjadi-jadi kala ia menangis di telpon saat aku menghubunginya. Ia bingung harus mencari dana kemana. Padahal saat itu memang sedang dekat2nya waktu lebaran, semua orang pun rasanya memang sedang membutuhkan banyak uang untuk mempersiapkannya. Aku sendiri pun rasanya tidak sanggup untuk membantu sendirian. Akhirnya dengan inisiatifku dan seorang sahabat, maka kami hubungi beberapa teman-teman yang memang ingin menyumbang. Baik melalui sms, telpon bahkan chatting sekalipun.. Paling tidak untuk sedikit meringankan beban sahabatku yang satu itu…
Setelah beberapa hari di inapkan d RS daerah Sunter, akhirnya dengan segala upaya kedua orang tuanya, bayi-bayi mungil itu dipindahkan juga ke Rumah Sehat Sunda Kelapa. Rumah ’sakit’ yang memang diperuntukkan bagi masyarakat yang digolongkan ’kurang mampu’.
Bayi yang berjenis kelamin perempuan dan laki-laki itu, dalam kondisi kritis beberapa hari selanjutnya.. Sungguh moment yang pasti amat mendebarkan untuk setiap orang tua yang mengalaminya… harap-harap cemas pun pasti menggelayuti fikiran…. tapi tidak untuk sahabat itu, ia benar-benar ikhlas menerima apapun yang telah menjadi garis takdir kedua buah hatinya.
Dan… Saat itu pun tiba, jum’at berikutnya kedua bayi mungil yang berat badannya tidak sampai 1,2 kg itu pun benar2 harus meninggalkan kedua orangtua dan keluarga yang pasti amat mencintainya… walaupun tidak dalam jam yang bersamaan mereka ’berpulang’. Aku pun sempat menjenguk bayi laki2 itu setelah kudengar kabar bahwa saudara kembar perempuan-nya telah tiada saat subuh belum lagi terdengar…
Ahhh… bayi mungil yang sempat kujenguk itu mungkin sedang dalam masa sakaratul mautnya kala aku melihatnya…. karena tidak berselang lama setelah aku menjenguk, ia pun dikabarkan telah menyusul saudara kembarnya.
Sayang… semoga kepergianmu menjadi tiket bagi kedua orangtuamu untuk menuju Jannah-Nya… Amiinnn…